Mingkemo! Menyikapi Manuver Politik Jokowi-Ma'ruf Amin

Mingkemo!

Andai orang yang tidak tau apa-apa tidak banyak komentar, maka akan sedikit pertentangan di antara manusia, begitulah yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali.
Dan itu juga yang terjadi di jaman sekarang, yang tidak tau apa-apa banyak komentar, sembari menyalahkan andai tidak sesuai dengan asumsinya sendiri.
Menghadapi orang seperti ini cukup rumit, karena dia sudah membangun asumsi yang dia yakini kebenarannya, sehingga penjelasan macam apapun tidak akan bisa mengubah asumsi tersebut.
Contoh paling gampang adalah Jokowi di mata para haters. Bukan bermaksud menyanjung Jokowi, akan tetapi ini hanya contoh saja. Mereka sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa Jokowi adalah kata lain dari sebuah kesalahan atau Jokowi adalah salah.
Nah, apapun yang dikerjakan oleh sang presiden RI ini pasti salah. Tidak ada yang benar. Andaipun benar, maka mereka masih mencari kesalahan Jokowi. Misalnya, sang presiden sedang shalat. Dimana salahnya orang shalat? Sebagai seorang muslim, shalat adalah kewajiban, dan tidak ada hubungannya dengan politik. Akan tetapi, di mata para haters, shalat Jokowi tetap salah dengan berbagai alasan yang dibuat.
Apalagi jika Jokowi membuat kebijakan. Para haters pasti rame, meskipun mereka tidak paham kebijakan tersebut.
Selain Jokowi, banyak tokoh-tokoh di negeri ini yang menjadi sorotan, dan dikomentari orang-orang yang tidak tau apa yang mereka kerjakan.
Seperti yang disampaikan Sayyidina Ali, " jangan menasehati orang bodoh karen dia akan membencimu, nasehatilah orang pandai, karena dia akan mencintaimu"
Atau yang disampaikan Imam As-Syafii, " aku mampu berhujjah dengan 10 ahli ilmu tapi aku kalah dengan 1 orang bodoh, karena dia tidak tau landasan ilmu"
Maka jelaslah bahwa menghadapi mereka dengan:
1. Menjelaskan sesuai dengan kapasitas ilmu mereka.
2. Jika berlanjut dengan emosi dan caci-maki, maka sebaiknya ditinggal saja. Perdebatan hanya sia-sia.
Ada yang lebih parah dari orang bodoh yang berkomentar, yaitu orang benci yang berkomentar atau biasa disebut dengan haters. Mereka akan menilai dari kaca mata kebencian, bukan kebenaran. Seperti yang disampaikan Prof. Dr. Syeikh Ramdhan al-Buthi, " jika kebencian mengakar dalam hati seseorang, maka bersiaplah kehilangan akal sehat". 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak liqo' dan cah pondok, lebih islami mana?

Lucunya Perpolitikan Indonesia

Tafsir Surat as-Sajdah ayat 11: Kematian