Santri dan pahitnya politik menjelang pilpres 2019
Di mulainya tahun politik membuat semua orang seakan larut di dalam hingar bingar dan panas dingin pilpres. Dimulai dengan kontroversi terjungkalnya Mahfudz MD sebagai cawapres Jokowi yang semula sangat kuat akan mendampingi Petahana di pilpres 2019. Dilanjut dengan curhat panjang Mahfudz MD di ILC yang menguak kronologi gagalnya dia maju menjadi cawapres dengan menyeret beberapa nama besar, seperti Muhaimin Iskandar.
Terpilihnya KH. Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi menyisakan kegalauan tersendiri bagi sebagian santri yang kontra Jokowi. Mau tidak mau mereka harus "menyerang" KH. Ma'ruf Amin. Dan disinilah ujian terberat seorang santri, sebab menyerang kiai adalah pantangan terbesar.
Kiai di mata santri
Kiai bagi seorang santri adalah orang tua ruh, jiwa, yang harus lebih dihormati daripada orang tua kandung. Sehingga jika ada perbedaan antara perintah orang tua dan kiai, maka yang didahulukan adalah perintah kiai. Bahasa kiasan yang pernah dipakai oleh Gus Dur dalam memandang hubungan kiai dan santri adalah jika saya diperintahkan terjuan ke api, maka saya akan terjun langsung.
Santri pesantren salaf tidak mengedepankan logika dalam perintah kiai. Berbeda dengan pesantren modern yang masih menimbang apakah perintah kiai masuk akal atau tidak, jika masuk akal maka akan dilaksanakan, dan jika tidak, maka tentu tidak akan dilanjutkan.
Mengapa bisa berbeda? Karena di pesantren salaf, ada doktrin tentang barakah-kualat. Dua kata beda bahasa, barakah berbahasa arab, dan kualat bahasa jawa. Santri didoktrin untuk selalu menghormati kiai dan yang ada hubungan dengan kiai agar mendapatkan ilmu yang manfaat dan barakah, dan barang siapa yang berani melawan perintah kiai atau kurang sopan pada kiai, akan mendapatkan kualat. Doktrin ini yang menyebabkan semua santri akan berupaya memenuhi semua perintah kiai.
Santri vs Kiai di pilpres 2019
Begitu pula dengan pilihan politik. Jika kiai sudah memilih sebuah partai atau seorang calon presiden, misal, maka semua santri akan mengikuti pilihan kiai.
Apakah semua santri se-Indonesia akan memilih KH. Ma'ruf Amin? Belum tentu. Sebab pilihan politik masing-masing kiai berbeda. Perbedaan semacam ini adalah hal yang wajar, sebagaimana mereka berbeda pendapat dalam menetapkan sebuah hukum fikih. Dan, para santri akan mengikuti pilihan politik kiainya sendiri. Itulah yang dinamakan demokrasi.
Yang perlu diingat adalah tetap menghormati KH. Ma'ruf Amin, karena itulah akhlaq, etika seorang santri yang selalu mendahulukan etika dalam segala tingkah lakunya. Menghormati KH. Ma'ruf Amin dengan tetap melihatnya sebagai seorang kiai, bukan politikus. Perhelatan pilpres yang 5 tahun sekali sangat disayangkan bila bisa menghilangkan kesantrian yang sudah dipupuk puluhan tahun di pesantren-pesantren.
Lagi, berpolitik tidak mesti dengan cara-cara yang keluar dari etika. Sebab hanya orang yang tak beretika sajalah yang berpolitik tanpa etika. Mengejar kekuasaan atau menjadi pendukung orang yang mengejar kekuasaan apakah harus kehilangan jati diri dan harga diri? Tentu saja pilihan ada pada masing-masing individu. Gus Dur pernah dawuh bahwa tidak ada kekuasaan yang perlu dipertahankan dengan mati-matian. Begitu pula dengan mengejarnya, tidak perlu berdarah-darah, sebab orang yang didukung jika sampai pada puncak kekuasan belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Sebab kekuasaan atau tahta adalah salah satu yang bisa mengubah seseorang dari yang baik menjadi jahat.
Komentar
Posting Komentar