Lucunya Perpolitikan Indonesia

Oleh: Ahmad Mas'ud
Sejak Joko Widodo menjadi presiden indonesia pada 2014 silam, terbentuklah dua kubu yang saling bertikai: pro-Jokowi yang disebut kecebong dan pro-Prabowo yang disebut dengan kampret. Dua kubu yang lumayang menghibur, sebab saling ejek di antara keduanya tidak pernah selesai.
Kecebong dan kampret garis keras akan mati kutu saat Jokowi dan Prabowo "bermesraan", misal:
1. Saat Jokowi datang ke rumah Prabowo di Hambalang ketika terjadi demonstrasi besar-besaran, mulai demo 212 sampai deno 411.
2. Saat Jokowi dan Prabowo dipeluk oleh peraih medali emas Asian Games 2018. Bahkan sebelum itupun, Jokowi terlihat "mesra" dengan Prabowo.

Nah, di sinilah lucunya, bagaimana perasaan para kecebong dan kampret garis keras? Campur-aduk tentunya.
Pola pikir kecebong dan kampret garis lurus tentang politik sangat lucu dan absurd, karena:
1. Politik hitam-putih
Warna politik yang tidak berwarna karena kebanyakan warna itu oleh mereka dianggap bahwa politik itu hitam-putih. Yang terjadi adalah penghakiman bahwa lawan berada di jalur yang salah. Dan harus dibully. Dan mereka merasa sudah menang jika sudah puas membully.

2. Agama-politik.
Sejak PKS masuk dalam panggung politik Indonesia, mereka menggunakan isu SARA sebagai alat politik. Dan strategi ini berhasil di pilkada DKI Jakarta tapi tidak di daerah lain.
Saat agama menjadi alat politik, aroma politik lalu menjadi begitu sakral. Dan ini tentu lucu. Bagaimana membuat  "najis"nya politik menjadi suci dan menjadi salah satu cara beribadah? WTF.
Para kampret setuju dengan agama-politik menjadi satu, sebab agama mencakup semua lini kehidupan manusia, di antaranya politik. Tetapi para kecebong tidak setuju. Dua kubu terlihat sengit dalam perdebatan ini.
Tema perdebatan mereka mencakup:
1. Kepemimpinan non muslim
Haram memilih pemimpin non muslim. Pemimpin harus orang Islam.
2. Korupsi tidak mempengaruhi iman
Jika para kecebong menganggap karuptor itu kafir atau najis, maka para kampret tidak sependapat.
3. Jihad, terorisme
4. Pancasila, khilafah

Perdebatan-perdebatan itu sejatinya perdebatan klasik, orang jaman dulu sudah membahasnya. Dan seharusnya orang jaman sekarang tinggal membaca dan menyimpulkan sendiri. Mengangkat lagi tema perdebatan itu hanya akan membuang-buang waktu.

Semoga saja, mereka bisa berpolitik secara dewasa, dengan:
1. Tidak perlu ngotot, santai saja.
2. Tetap menjaga persahabatan dan persaudaraan.
3. Membaca politik dengan kaca mata politik, bukan agama, fitnah dan kebencian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak liqo' dan cah pondok, lebih islami mana?

Tafsir Surat as-Sajdah ayat 11: Kematian