Tafsir Politik Surat an nisa ayat 36
🕋 📖 *#Ayat Kita Hari Ini. Ahad 21 Dzulhijjah 1439/ 02 September 2018*
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,
📖 *Surat An-Nisa', Ayat 36*
___________________________
Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana sebuah keseimbangan hidup antara hablun min Allah dan hablun min an-nas. Hablun min Allah digambarkan dengan " sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya". Sesangkan hablum min an-nas digambarkam dengan "berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki"
Atau dengan bahasa lain, shaleh spritual yang dilengkapi dengan shaleh sosial. Ini tentulah tidak mudah, karena ternyata banyak juga yang shaleh secara spritual tapi tidak secara sosial. Contoh gampangnya pejabat yang kelihatannya shaleh spritual tapi korupsi.
Apa yang salah? Bukankah sholat, misal, sesuai dengan ayat dalam al-Qur'an bisa menjauhkan seseorang dari perbuatan keji dan munkar? Taat beribadah tapi bejat, kok bisa?
Beribadah adalah upaya manusia untuk dekat dengan Tuhannya dan mencapai maqom tertinggi sebagai orang yang dekat dengan-Nya. Beribadah merupakan kewajiban semua manusia sehingga jika tidak beribadah akan mendapatkan ancaman siksa neraka.
Di samping itu, beribadah adalah upaya manusia mencapai maqom, tingkat spritual yang tinggi. Di sini, tampak mana yang sudah sampai maqom tinggi, masih pertengahan, dan yang masih tingkat bawah.
Cara mengetahuinya agak mudah: duniawi. Ya, urusan duniawi meliputi harta, pangkat, dan lain sebagainya. Untuk yang sudah sampai pada maqom tinggi, mereka tidak peduli dengan urusan duniawi, semuanya untuk mendekatkan diri pada -Nya. Sedangkan untuk yang tingkat pertengahan mereka agak peduli dengan urusan duniawi, meski pada akhirnya akan untuk ibadah pada Tuhan, dan untuk yang tingkat bawah, urusan duniawi bisa mengalahkan ibadah, bahkan urusan ibadah sudah tercampur dengan urusan duniawi.
Bagaimana dengan kemaksiatan?
Begitu pula dengan hal-hal yang berbau maksiat. Bagi tingkat tinggi, mereka tidak akan mendekat pada kemaksiatan, sedangkan tingkat pertengahan sedikit melakukan kemaksiatan, dan tingkat bawah, mereka sering melakukan kemaksiatan.
Maka, jelaslah mengapa orang yang taat beribadah masih bejat atau sering melakukan kemaksiatan.
Pula, efek dari ibadah tidaklah tampak dari segi lahiriyah, seperti jidat hitam, atau dari pakaian, seperti berhijab dan lain sebagainya.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa tingkat spritual masih rendah padahal sudah taat beribadah? Penulis tidak tau persis, sebab banyak faktor yang mempengaruhi, misal,
A. Kurang muhasabah diri
Muhasabah atau introspeksi diri adalah mengetahui kesalahan dan kejelekan diri sendiri lalu berupaya mengurangi atau kalau bisa menghilangkannya.
Mengetahui cela dan cacat diri sendiri adalah langkah awal dna utama dalam Muhasabah diri. Tanpa tau celanya, maka memperbaiki apapun tidak akan bisa terjadi. Juga, setiap orang pasti memiliki kekurangan, dan kekurangan itu bukan untuk ditutupi akan tetapi diperbaiki.
B. Merasa sudah baik
Dengan taat beribadah kemudian merasa sudah baik adalah faktor lain mengapa tingkat spritual tidak naik-naik. Seperti anak yang sudah merasa pintar, yang menyebabkan dia malas belajar. Beda dengan anak yang merasa masih banyak pengetahuan yang belum dikuasi, dia akan terus belajar dengan tekun.
*
Karena ini blog politik, mau tidak mau harus nyrempet dikit ke politik ya..
Untuk memilih pemimpin, ayat ini menganjurkan untuk mencari orang yang:
1. Taat beribadah
Minimal shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan tidak bolong-bolong
2. Ikhlas
Ikhlas tergambar dalam " tidak menyekutuka-Nya". Pemimpin yang ikhlas, keluar dari hati akan masuk dalam hati, dan akan dicintai oleh rakyatnya.
3. Taat dan hormat pada orang tua
Jika calon pemimpin tersebut punya orang tua, lihat bagaimana dia menempatkan kedua ora tuanya. Pemimpin yang baik akan memperlakukan baik kepada orang tuanya
4. Sayang dan cinta pada anak yatim, dan orang tidak mampu
Melindungi anak yatim dan orang yang lemah adalah tugas pemimpin dan pemerintahannya. Abai pada anak yatim artinya dia bukan pemimpin yang baik.
Wallahu a'lam
Komentar
Posting Komentar