Tafsir politik surat an-nisa' Ayat 149: bisakah Cebong dan Kampret saling memaafkan?

🕋
Foto: hipwee
📖 *#Ayat Kita Hari Ini. Senin 22 Dzulhijjah 1439/ 03 September 2018*

إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا
Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa.

📖  *Surat An-Nisa', Ayat 149*
___________________________

Ayat ini menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana menjadi pribadi yang pemaaf dan saling memaafkan, karena sejatinya manusia adalah tempat salah dan lupa, sehingga untuk terciptanya kehidupan yang harmonis sangat membutuhkan rasa saling memaafkan.
Jika tidak ada pintu maaf, maka alangkah muramnya dunia. Bumi hanya akan menjadi medan perang, karena dendam yang terus menyala terbakar. Hidup yang menyeramkan.

Mengapa harus bisa menjadi pribadi pemaaf, yang lapang dada?

1. Memaafkan bukan bukti lemah dan kalah

2. Menyimpan dendam hanya akan membawa beban. Dengan memaafkan beban itu akan hilang dengan sendirinya.

Kisah terhebat dalam memaafkan adalah Rasulullah saw saat fathu makkah. Orang kafir Quraisy yang dulu sangat membenci beliau bahkan akan dibunuh, saat fathu makkah mereka dimaafkan. Andai saja Rasulullah mau membunuh semua kafir Quraisy, tentu sangat mudah.

TAFSIR POLITIK

Nah, bagaimana dengan dunia politik? Adakah kata maaf? Bisakah kecebong dan kampret berpelukan sebagaimana Jokowi dan Prabowo Subianto berpelukan?

Mudah dikatakan tapi sulit dikerjakan.

Dalam dunia politik Indonesia dewasa ini, kesalahan lawan politik adalah bahan, materi kritik yang akan terus disuarakan untuk menjatuhkan. Kesalahan akan dijadikan komoditi dalam kampanye. Dan itu sah-sah saja.

Yang bahaya adalah mencari, membuat sesuatu yang dianggap sebuah kesalahan dalam bentuk fitnah, hoaks dan lain sebagainya. Bahayanya karena ada undang-undang yang melarangnya, yang dengan artian jika melanggar, akan kena hukuman.

Berpolitik tidak sekonyol itu: masuk bui.

Sisi baik politik adalah tidak ada dendam. Kita bisa melihat bagaimana Prabowo menjadi cawapres Megawati, atau Prabowo dengan Gerindanya mendukung Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta, Demokrat dan SBY yang sakit hati karena AHY tidak bisa menjadi cawapres Prabowo, tetapi lalu menjadi ketua timses Prabowo-Sandiaga, dan lain sebagainya.

Politik tidak memiliki dendam, selama kepentingan terpenuhi.

Kembali pada pertanyaan di atas, bisakah para kecebong dan kampret saling memaafkan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak liqo' dan cah pondok, lebih islami mana?

Lucunya Perpolitikan Indonesia

Tafsir Surat as-Sajdah ayat 11: Kematian