Kemarab

Akhi-ukhti, ana-anta, cak-cuk-gok

Dalam bahasa, bahasa Arab tidak punya tatakrama seperti bahasa Jawa. Akhi-Ukhti, ana-anta adalah kata yang penggunaannya sama dengan lawan bicara beda. Bahkan kepada Tuhan sekalipun. Beda dengan bahasa Jawa, kalau lawan bicara umurnya lebih rendah, menggunakan kata " le, tole, nduk" dlsb. Kalau lawan bicara sama derajatnya, menggunakan kata " koe, koen, awakmu, gok, cuk" dlsb, dan kalau lawan bicara lebih tinggi pangkatnya, menggunakan kata " panjenengan, sampeyan, kulo" dlsb. Bahasa madura juga mirip bahasa Jawa.

Orang Jawa yang tinggal di Jawa dan berintraksi dengan orang Jawa, lalu menggunakan bahasa "akhi-ukhti" sungguh tidak nJawani, hilang jati diri, karakter sebagai manusia Jawa.

Hilangnya jati diri membuat seseorang menjadi "alien"! Lalu mencari identitas baru yang bukan jati dirinya, budayanya, bahkan sejarahnya. Sebab manusia butuh sejarah-sejarah yang menghubungkan dirinya dengan lingkungan tempat tinggalnya, dan dengan orang yang hidup di sekitar dan yang ada hubungan darah dengannya.
Dalam kasus di atas, dia akan menjadikan Arab sebagai identitas dirinya, lalu budayanya, dan terakhir bangsanya. Dengan menjadi arab KW, atau istilah "ilmiyahnya", kemarab. Lucunya, orang kemarab ini tidak tahu banyak tentang kehidupan orang-orang Arab jama sekarang. Padahal orang Arab jaman ini sudah ke-barat-baratan.

Arab Lebih Unggul?
Kebanyakan menjadi kemarab karena faktor agama, agar terlihat lebih religius lalu menjadi orang Arab. Sebuah standar absurd.

Oleh karena itu, lalu dicarikan dalil-dalil tentang keunggulan Arab mulai dari  budaya, sejarah, bahasa, pengaruh, dan lain sebagainya. Ditambah dengan lahirnya Islam (dan tumbuh pesat) di tanah Arab yang menyebabkan upaya mencari dalil ini menjadi mudah.

Padahal setiap bangsa memiliki keunggulan, keunikan bahkan kelemahannya sendiri. Bangsa besar di masa lalu terkadang menjadi bangsa yang terbelakang di masa sekarang. Begitu juga dengan bangsa Arab dan Jawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak liqo' dan cah pondok, lebih islami mana?

Lucunya Perpolitikan Indonesia

Tafsir Surat as-Sajdah ayat 11: Kematian